Memuat Halaman...

Baca Berita

Sosial 15 August 2026 Oleh: Pramaisheila ristiani

Jejak Sesepuh, Perintis Syiar Islam, dan Ingatan Sejarah Desa Rajekwesi

Jejak Sesepuh, Perintis Syiar Islam, dan Ingatan Sejarah Desa Rajekwesi
Makam Mbah Murtadho merupakan salah satu ruang penting dalam ingatan sejarah masyarakat Desa Rajekwesi, khususnya Dukuh Kauman, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Masyarakat setempat mengenal Mbah Murtadho sebagai seorang sesepuh yang dipercaya memiliki peran dalam perkembangan awal kehidupan keislaman di wilayah Rajekwesi. Makam tersebut tidak hanya dipandang sebagai tempat peristirahatan seorang tokoh masa lalu, tetapi juga sebagai makam sepuh atau punden yang memiliki nilai sosial, keagamaan, dan budaya bagi masyarakat. Kisah Mbah Murtadho diwariskan terutama melalui penuturan masyarakat dan keterangan Bapak Syarof selaku juru kunci makam. Oleh karena itu, sebagian kisah yang berkembang mengenai tokoh tersebut perlu ditempatkan sebagai tradisi lisan dan ingatan kolektif masyarakat, bukan semata-mata sebagai fakta sejarah yang telah diverifikasi melalui sumber tertulis. Pembedaan tersebut penting agar nilai budaya yang terkandung dalam cerita tetap terjaga sekaligus penulisan sejarah tetap memperhatikan kaidah pembuktian. Sejarah Rajekwesi dan Kenangan Para Sesepuh Sejarah sebuah desa tidak hanya tersimpan dalam arsip, dokumen, atau catatan pemerintahan, tetapi juga dalam ingatan masyarakat. Nama tokoh, makam, masjid, haul, tempat yang dianggap keramat, serta cerita yang diwariskan antargenerasi menjadi bagian dari cara masyarakat memahami masa lalu. Dalam konteks Rajekwesi, makam Mbah Murtadho menjadi salah satu ruang yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan masyarakat masa kini. Makam tersebut berada di Dukuh Kauman dan dipandang sebagai makam sepuh atau punden yang berkaitan dengan sejarah awal kehidupan masyarakat setempat. Keterangan mengenai Mbah Murtadho berkembang dalam beberapa versi. Salah satu sumber penting adalah penuturan Bapak Syarof selaku juru kunci makam. Adanya variasi cerita tidak serta-merta menjadi kelemahan sejarah lokal. Sebaliknya, variasi tersebut menunjukkan bahwa ingatan masyarakat terus diwariskan dan mengalami perkembangan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, kisah Mbah Murtadho perlu dipahami sebagai bagian dari sejarah lokal yang bertumpu pada tradisi lisan, sementara rincian mengenai tanggal kehidupan, silsilah, dan peristiwa tertentu masih memerlukan pembuktian melalui sumber primer atau dokumen sejarah lainnya. Nama Murtadho dan Murtholo Dalam tradisi tutur masyarakat Rajekwesi terdapat setidaknya dua penyebutan untuk tokoh tersebut, yakni Mbah Murtadho dan Mbah Murtholo. Variasi nama semacam ini dapat terjadi dalam sejarah lisan karena sebuah nama diwariskan melalui pengucapan antargenerasi tanpa selalu didukung oleh dokumentasi tertulis yang baku. Meskipun terdapat variasi penyebutan, masyarakat lebih banyak mengenal tokoh tersebut sebagai Mbah Murtadho. Nama tersebut kemudian digunakan dalam penyebutan makam maupun kegiatan haul. Dengan demikian, nama Mbah Murtadho telah menjadi bagian dari memori sosial masyarakat Rajekwesi. Dalam perspektif sejarah, variasi nama tersebut justru penting karena dapat menjadi petunjuk untuk penelitian lebih lanjut melalui arsip desa, dokumen masjid, dokumen wakaf, makam keluarga, maupun kesaksian para sesepuh. Seorang Pendatang yang Menjadi Sesepuh Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Mbah Murtadho digambarkan sebagai seorang pendatang atau pengembara yang kemudian menetap dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Rajekwesi. Kehadiran seorang pendatang yang kemudian diterima sebagai sesepuh menunjukkan adanya nilai penting dalam budaya desa, bahwa seseorang dikenang bukan semata-mata karena asal-usulnya, tetapi karena manfaat dan jejak kebaikan yang ditinggalkannya. Kisah mengenai Mbah Murtadho juga dihubungkan dengan seorang putri yang menurut tradisi lisan berasal dari Mataram. Dalam cerita tersebut, Mbah Murtadho disebut memiliki peran dalam mendampingi dan menjaga sang putri. Cerita mengenai tokoh tersebut kemudian berkembang bersama kisah tentang keberadaan petilasan yang dianggap berkaitan dengan sang putri. Sampai saat ini belum tersedia bukti tertulis yang cukup untuk memastikan seluruh rincian cerita tersebut. Namun, secara budaya kisah itu tetap penting karena menunjukkan bagaimana masyarakat memberi makna terhadap ruang, tokoh, dan sejarah masa lalu. Kisah Sang Putri dan Petilasan Salah satu cerita yang mengiringi nama Mbah Murtadho adalah kisah tentang seorang putri yang dalam tradisi lisan dikaitkan dengan Mataram. Cerita tersebut berkembang bersama keberadaan sebuah petilasan yang diyakini berada di wilayah Rajekwesi. Dalam salah satu kisah yang beredar, seorang tukang ojek dari Pecangaan pernah mengantarkan seorang perempuan pada malam hari menuju Rajekwesi. Perempuan tersebut kemudian turun di sebuah rumah besar. Akan tetapi, ketika tempat itu kembali dilihat keesokan harinya, bangunan yang sebelumnya tampak tersebut tidak lagi terlihat dan justru terdapat kawasan bambu. Cerita semacam ini oleh sebagian masyarakat dipandang sebagai bagian dari kisah petilasan putri. Dalam penulisan sejarah, kisah tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai kepercayaan dan tradisi lisan masyarakat, bukan sebagai fakta empiris yang telah terbukti. Nilai pentingnya terletak pada bagaimana masyarakat memandang ruang tertentu sebagai tempat yang memiliki hubungan dengan masa lampau dan menyimpan memori kolektif. Mbah Murtadho dan Awal Syiar Islam Peran keagamaan merupakan salah satu unsur paling kuat yang dilekatkan masyarakat kepada Mbah Murtadho. Masyarakat mempercayai bahwa beliau termasuk tokoh awal yang ikut mensyiarkan Islam di wilayah Rajekwesi. Dalam sejarah perkembangan kehidupan beragama di tingkat desa, peran semacam ini mempunyai arti penting karena penyebaran agama tidak selalu berlangsung melalui lembaga besar, tetapi juga melalui hubungan sosial antarmanusia. Syiar agama dapat berlangsung melalui pengajaran, keteladanan, doa, pembiasaan ibadah, pengajian, serta pembangunan kehidupan sosial yang berlandaskan nilai agama. Dalam ingatan masyarakat, Mbah Murtadho tidak hanya digambarkan sebagai seseorang yang menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga sebagai tokoh yang hadir bersama masyarakat dan kemudian dikenang sebagai sesepuh. Apabila kisah tersebut ditempatkan dalam konteks perkembangan Islam di Jepara, Mbah Murtadho dapat dipahami sebagai bagian dari mata rantai sejarah keagamaan tingkat desa. Namun, penyebutan beliau sebagai perintis syiar Islam tetap perlu dilakukan secara hati-hati. Bahan yang tersedia belum memberikan tanggal kehidupan, silsilah, guru, jaringan dakwah, ataupun dokumen tertulis yang dapat menjelaskan perjalanan dakwah beliau secara rinci. Oleh sebab itu, istilah seperti “dipercaya” dan “menurut penuturan masyarakat” perlu tetap digunakan. Masjid Jami’ dan Jejak Kehidupan Keagamaan Masjid Jami’ merupakan salah satu bangunan yang memiliki posisi penting dalam ingatan keagamaan masyarakat Rajekwesi. Berdasarkan keterangan masyarakat yang disampaikan dalam bahan sejarah lokal tersebut, masjid ini disebut telah berdiri sejak tahun 1913. Tahun tersebut menjadi penanda bahwa kehidupan keagamaan masyarakat Rajekwesi telah memiliki institusi ibadah yang relatif mapan pada awal abad ke-20. Keberadaan Masjid Jami’ juga dalam penuturan masyarakat dikaitkan dengan masa keberadaan Mbah Murtadho. Meskipun demikian, bahan yang tersedia belum cukup untuk menyatakan bahwa Mbah Murtadho merupakan pendiri masjid. Hubungan antara makam dan masjid lebih tepat dipahami sebagai bagian dari memori masyarakat mengenai kesinambungan perkembangan kehidupan Islam di Desa Rajekwesi. Masjid menjadi ruang ibadah dan pendidikan agama, sedangkan makam menjadi ruang mengenang para pendahulu. Keduanya kemudian membentuk hubungan simbolis antara kehidupan keagamaan masa lalu dan masa kini. Sejarah Masjid Jami’ sendiri masih terbuka untuk penelitian lebih lanjut melalui dokumen wakaf, prasasti, arsip pengurus, catatan renovasi, maupun arsip desa. Kajian Haul Jumat Kliwon sebagai Tradisi Keagamaan Ingatan terhadap Mbah Murtadho tidak hanya dipertahankan melalui cerita, tetapi juga melalui tradisi keagamaan yang dilaksanakan secara berkala. Di Rajekwesi terdapat Haul Mbah Murtadho yang dilaksanakan setiap Jumat Kliwon pada bulan Rabiul Awal. Berdasarkan penuturan Bapak Syarof, kegiatan haul tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun dan menjadi salah satu agenda keagamaan masyarakat. Tradisi haul berkembang setelah sejumlah warga meminta nasihat kepada para sesepuh mengenai makam tua yang sebelumnya belum rutin diperingati. Salah satu tokoh yang disebut memberikan nasihat adalah Mbah Marghono dari Purwodadi. Dari nasihat tersebut muncul anjuran agar makam tua setidaknya diperingati sekali dalam setahun, kemudian waktu pelaksanaannya diarahkan pada Jumat Kliwon di bulan Rabiul Awal. Haul tidak sekadar menjadi kegiatan untuk mengenang tokoh yang telah meninggal. Tradisi ini menjadi ruang berkumpulnya masyarakat melalui selawat, pengajian umum, dan doa bersama. Dengan demikian, makam menjadi ruang sosial-keagamaan yang menghubungkan sejarah, silaturahmi, dan praktik keagamaan masyarakat. Menariknya, kegiatan selapanan masyarakat biasanya tetap dilaksanakan di masjid-masjid, bukan di area makam. Pembagian ruang tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki fungsi yang berbeda antara makam sebagai ruang ziarah dan haul serta masjid sebagai ruang utama kegiatan keagamaan rutin. Makam Sepuh dan Punden sebagai Ruang Memori Makam Mbah Murtadho dirawat sebagai makam sepuh atau punden Desa Rajekwesi. Dalam konteks kebudayaan Jawa, istilah punden tidak hanya menunjuk tempat yang tua, tetapi juga tempat yang dihormati karena dikaitkan dengan tokoh pendahulu yang dianggap mempunyai jasa atau kedudukan penting dalam sejarah suatu komunitas. Masyarakat lokal maupun warga dari luar daerah datang untuk berziarah. Praktik ziarah memiliki dimensi keagamaan sekaligus kebudayaan. Masyarakat datang untuk mendoakan, mengingat kematian, mengambil pelajaran dari kehidupan para pendahulu, serta menjaga hubungan batin dengan sejarah komunitasnya. Nilai sebuah makam juga tidak semata-mata ditentukan oleh usia bangunan, bentuk nisan, atau kemegahan fisiknya. Nilai sejarah dan budaya dapat muncul dari kesinambungan penghormatan masyarakat. Selama masyarakat masih datang, berdoa, membersihkan, serta menceritakan sejarah tokoh yang dimakamkan, makam tersebut tetap menjalankan fungsi sebagai ruang memori kolektif. Masyarakat sebagai Perawat Warisan Sejarah Keberlangsungan sebuah makam bersejarah tidak dapat dipisahkan dari orang-orang yang merawatnya. Dalam kasus Makam Mbah Murtadho, juru kunci dan para pengurus mempunyai peran penting dalam menjaga keberadaan situs sekaligus mempertahankan cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Bapak Syarof dipercaya sebagai juru kunci sekaligus menjadi salah satu sumber utama pengetahuan mengenai kisah Mbah Murtadho. Sementara itu, kebersihan makam menurut keterangan beliau dirawat oleh Bapak Mulyadi yang biasanya membersihkan makam pada sore hari menjelang malam Jumat. Aktivitas sederhana tersebut menunjukkan bahwa pelestarian sejarah tidak hanya dilakukan melalui penelitian formal, tetapi juga melalui kerja sosial sehari-hari. Susunan pengelolaan makam yang disebutkan dalam bahan wawancara terdiri atas KH. Muzahid sebagai ketua, Bapak Syarof sebagai sekretaris sekaligus juru kunci, Bapak Agus Malik sebagai bendahara, dan Bapak Mulyadi sebagai petugas kebersihan. Struktur tersebut menunjukkan adanya tanggung jawab bersama dalam menjaga makam dan tradisi keagamaan yang menyertainya. Mbah Murtadho dan Ingatan Ke-NU-an Masyarakat Mbah Murtadho juga ditempatkan dalam ingatan masyarakat sebagai bagian dari mata rantai perjuangan keislaman lokal yang hidup dalam lingkungan sosial-keagamaan yang saat ini lekat dengan kultur masyarakat NU. Namun, secara akademik penyebutan Mbah Murtadho sebagai “pejuang NU” perlu dilakukan secara hati-hati. Bahan yang tersedia belum menyebutkan secara eksplisit kapan beliau terlibat dalam Nahdlatul Ulama, struktur organisasi yang pernah diikuti, jaringan kiai yang menjadi bagian dari kehidupannya, maupun bukti tertulis mengenai hubungan kelembagaan beliau dengan NU. Karena itu, klaim tersebut belum dapat dinyatakan sebagai kepastian sejarah. Meskipun demikian, tradisi haul, selawat, pengajian, doa bersama, penghormatan kepada ulama dan sesepuh, serta kehidupan sosial-keagamaan masyarakat menunjukkan konteks religius yang kuat. Untuk memperkuat sejarah keterkaitan Mbah Murtadho dengan perkembangan NU di Rajekwesi, diperlukan penelitian lanjutan terhadap arsip organisasi, kesaksian keluarga, keterangan para kiai, serta dokumen kepengurusan NU tingkat desa atau kecamatan. Tradisi Lisan sebagai Sumber Sejarah Lokal Kisah Mbah Murtadho menunjukkan bahwa sejarah lokal mempunyai kekayaan sekaligus tantangan. Kekayaannya terletak pada kenyataan bahwa masyarakat dapat mempertahankan cerita meskipun dokumen tertulis tidak selalu tersedia. Tantangannya adalah ingatan manusia dapat berubah, bercampur, dan berkembang menjadi lebih dari satu versi. Cerita tentang variasi nama, kisah sang putri, petilasan, rumah besar yang kemudian tidak terlihat, kawasan bambu, maupun keyakinan tentang kemampuan tertentu merupakan bagian dari budaya tutur masyarakat Rajekwesi. Cerita-cerita tersebut penting untuk dicatat, tetapi tidak seluruhnya dapat diperlakukan sebagai fakta empiris. Pendekatan yang tepat adalah menempatkan tradisi lisan sebagai objek kajian budaya sekaligus tetap menjaga disiplin sejarah. Ungkapan seperti “menurut penuturan masyarakat”, “dipercaya masyarakat”, “diceritakan secara turun-temurun”, dan “belum ditemukan bukti tertulis” menjadi penting agar pembaca dapat membedakan antara fakta yang telah dibuktikan dan keyakinan yang hidup di masyarakat. Potensi Pelestarian dan Pengembangan Sejarah Lokal Makam Mbah Murtadho mempunyai potensi besar sebagai bagian dari pengembangan sejarah dan budaya lokal Desa Rajekwesi. Nilai utamanya tidak hanya terletak pada makam sebagai benda fisik, tetapi juga pada tradisi, cerita, haul, kegiatan keagamaan, dan kehidupan sosial yang berkembang di sekitarnya. Keberadaan makam sepuh dapat menjadi sarana pendidikan sejarah lokal bagi generasi muda. Haul, pengajian, selawat, dan doa bersama menjadi bentuk pendidikan budaya yang berlangsung secara alami. Anak-anak dan generasi muda yang mengikuti kegiatan tersebut dapat mengenal tokoh yang dihormati sekaligus memahami tradisi masyarakatnya. Pelestarian juga dapat dilakukan melalui dokumentasi yang lebih sistematis. Foto makam, rekaman wawancara dengan juru kunci dan sesepuh, catatan kegiatan haul, arsip Masjid Jami’, dokumen desa, silsilah keluarga, serta berbagai kesaksian masyarakat perlu dihimpun agar sejarah Mbah Murtadho tidak hanya bertahan melalui ingatan lisan. Dokumentasi tersebut dapat menjadi dasar bagi penelitian sejarah lokal yang lebih kuat pada masa mendatang. Penutup Makam Mbah Murtadho di Dukuh Kauman, Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, merupakan ruang penting dalam ingatan sejarah dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Mbah Murtadho dikenang sebagai seorang pendatang yang kemudian menjadi sesepuh, sebagai tokoh yang dipercaya ikut mensyiarkan Islam, dan sebagai bagian dari perjalanan terbentuknya kehidupan religius masyarakat Rajekwesi. Nilai utama makam tersebut tidak berhenti pada keberadaan fisiknya. Di dalamnya terdapat hubungan antara makam, tradisi haul, masjid, tokoh masyarakat, juru kunci, pengurus makam, serta cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Semua unsur tersebut membentuk sebuah ruang memori kolektif yang memperlihatkan bagaimana masyarakat memahami dan merawat sejarah desanya. Pada saat yang sama, penulisan mengenai Mbah Murtadho harus tetap bersikap kritis. Keterangan mengenai asal-usul, masa hidup, silsilah, jaringan dakwah, maupun keterkaitannya dengan Nahdlatul Ulama masih membutuhkan penelitian dan pembuktian lebih lanjut. Arsip Desa Rajekwesi, dokumen Masjid Jami’, catatan wakaf, dokumen haul, makam keluarga, kesaksian para sesepuh, serta arsip organisasi keagamaan merupakan sumber yang penting untuk memperkuat dokumentasi sejarah tersebut. Dengan demikian, pelestarian Mbah Murtadho tidak hanya berarti menjaga makamnya, tetapi juga menjaga cerita, tradisi, dan nilai sosial-keagamaan yang mengitarinya. Selama masyarakat terus berziarah, melaksanakan haul, merawat makam, serta mengenalkan kisahnya kepada generasi berikutnya, Mbah Murtadho akan tetap menjadi bagian dari ingatan kolektif Desa Rajekwesi dan sejarah kehidupan keagamaan masyarakatnya.